Kesalahan Anak Kampung Dalam Memilih Jurusan Sekolah
Tahun terakhir sekolah memang selalu jadi fase berat ya bund, apalagi buat anak kampung macam Fia yang baru pindah dan masih berusaha beradaptasi tinggal di kota besar. Dulu, keluarga mamanya Fia mengarahkan Fia untuk masuk SMK, biar kaya orang China katanya, lulus SMK bisa langsung cari uang. Tapi Fia sendiri merasa dirinya lebih cocok masuk SMA, karena bingung mau ambil jurusan apa.
Cuman setelah proses negosiasi beberapa kali, mama Fia kekeh untuk mendaftarkan Fia SMK, padahal sekolahnya swasta, sementara SMA tujuan Fia negeri. Tapi orang tua mungkin punya pertimbangannya sendiri lah ya, jadi yaudah. Fia akhirnya mau ambil Multimedia, karena suka nulis dan pengen jadi penulis skenario. Uang juga udah di transfer, semua persiapan berkas sudah lengkap, tinggal daftar. Tapi, paginya bunda (ibu ketemu gede fia) kasih masukan biar Fia ambil DKV (Desain Komunikasi Visual) aja, katanya ini jurusan baru, tapi prospeknya karier kedepannya bagus, ya... karena bunda bilang bagus, akhirnya Fia manut, dan jadilah masuk DKV.
Fia masuk DKV dalam keadaan tangan kosong, keahliannya cuman nulis sama suka ngomong, tapi DKV menekankan komunikasi visualnya, which mean ya gambar, design, videography atau fotography. Diawal kelas Fia pikir semua orang memulai belajar dari nol seperti Fia, tapi ternyata nggak...
Rata-rata teman sekelas Fia berasal dari keluarga yang berada, namanya juga sekolah swasta lah ya. Jadi, orang tua mereka sudah memfasilitasi mereka untuk memenuhi kebutuhan belajar. Sebagian teman sekelas Fia sudah jago di seni, sebagian lagi teknologinya.
Untuk Fia sendiri, yang gak bisa apa apa, otomatis kaget dan ngerasa minder duluan dong. Rasanya dia tertinggal jauh dari teman temannya, ibarat kata Fia masih merangkak, sementara orang lain sudah lari sprint.
Problem lainnya, Fia gak punya laptop yang mumpuni untuk belajar otodidak diluar kelas, jadi Fia merasa semakin terpuruk deh disini. semangatnya udah patah dan akhirnya setiap kelas Fia selalu merasa dirinya berada dijurusan yang salah, dirinya adalah orang bodoh diantara anak anak berbakat lainnya.
Untuk bertahan diposisi ini Fia harus kehilangan kepercayaan dirinya, jadi sering merutuki perkembangannya yang lambat, kemampuannya yang begitu begitu saja, tidak bisa seperti teman temannya, dan tidak berbakat.
Bahkan ketika naik ke kelas XI (sebelas) dimana fia harus menghadapi on job training, Fia menghabiskan waktu yang lama untuk menangis karena merasa belum siap, setahun terakhir dirinya tidak belajar apapun dan tidak memiliki persiapan apapun, tiba-tiba sekarang sudah memasuki waktunya OJT, ya gimana gak pusing?
Selama struggle di DKV, Fia menyadari bahwasanya orang tua Fia tidak pernah mempersiapkan dirinya untuk memilih prospek karier ditengah dunia yang berkembang cepat, bukan bermaksud untuk menyalahkan orang tua, karena Fia memahami mereka pun memiliki keterbatasan dalam ranah ini, tapi maksudnya Fia adalah, kerap kali lingkungan disekitar anak kampung sebatas memikirkan cara mendapatkan uang dengan cepat.
Tidak diajarkan cara menjadi spesialist dalam satu bidang dan mengasah hard skill ataupun soft skill disana. Akhirnya riset yang dilakukan pun sebatas pada kebiasaan disekitar si anak kampung, atau bahkan mereka tidak melakukan riset apapun, hanya mengikuti arahan dari tetua karena percaya yang direncanakan orang tua lebih baik, tanpa mempertimbangakan kemampuan mereka dalam berjalan di jalan tersebut nantinya.
Sebenarnya permasalahan ini juga umum dihadapi oleh siapapun terlepas asal tempat tinggalnya, tapi keberuntungan anak yang hidup di kota besar, dengan orang tua yang sudah melek akan pendidikan, memiliki kelebihan dengan selangkah lebih maju dari kami anak kampung.
Komentar
Posting Komentar